Pelayanan di RSUD Sibuhuan


Pasien Jamkesda pun Dipungut Biaya Pelayanan di RSUD Sibuhuan buruk. Hal ini dibuktikan dengan kondisi di rumah sakit tersebut yang terkesan amburadul. Dokter jarang masuk, rumah sakit kotor dan sikap pegawai yang meminta sejumlah uang kepada pasien Jamkesmas.

Forum Rembuk Jurnalis (FRJ) Kabupaten Padang Lawas (Palas) melalui Firdaus Hasibuan menyatakan atas kondisi tersebut, Direktur RSUD Sibuhuan dr Sadikin Kudadiri gagal menjalankan tugas. “Ada beberapa indikator Direktur RSUD Sibuhuan gagal, yakni pelayanan RSUD Sibuhuan yang saat ini makin buruk, bahkan kuat dugaan terjadi komersialisasi dalam pelayanan RSUD Sibuhuan,” terang Firda, Rabu (18/5) kemarin.
Senada juga disampaikan Ketua Lembaga Kajian, Penelitian Sumber Daya Alam dan Manusia, PC NU Kabupaten Palas Bonardon Nasution. Dia mengatakan, alasan yang paling mendasar dari gagalnya kinerja Sadikin adalah terjadinya pengutipan terhadap peserta Jamkesmas bagi rakyat miskin, besarnya biaya berobat di RSUD Sibuhuan, dan PAD RSUD Sibuhuan juga sangat minim, hanya Rp150 juta. “Pelayanan yang buruk, dokter-dokter yang jarang masuk, dan kotornya lingkungan RSUD Sibuhuan adalah bagian dari ketidakmampuan direktur dalam mengelola RSUD Sibuhuan,” terang Bonardon. masih kata Bonardon, banyak info yang ditemukan di lapangan yang membuat masyarakat enggan berobat ke RSUD Sibuhuan. Padahal, setiap tahunnya kucuran anggaran untuk RSUD Sibuhuan sebesar miliaran rupiah, namun tidak dimanfaatkan oleh pihak RSUD Sibuhuan dengan baik.
seperti diberitakan sebelumnya, seorang pasien Jamkesmas saat menjalani perawatan di RSUD Sibuhuan diminta untuk membayar sejumlah uang untuk sejumlah keperluan.

Saat itu yang dirawat adalah Aulia (1,5), anak dari Awaluddin (30) warga Ippos Lingkungan VI, Kelurahan Sibuhuan, Kecamatan Barumun. Sekitar 4 hari dirawat, putri tunggalnya tersebut tidak tertolong lagi dan meninggal dunia di RSUD Sibuhuan.

Saat berobat, dia menunjukkan kartu Jamkesda. Namun dia mengaku mengeluarkan sejumlah uang ketika putrinya berobat, padahal mereka adalah peserta Jamkesmas. Dia dimintai uang Rp160 ribu tanpa penjelasan untuk apa uang tersebut dan kemudian diminta Rp60 ribu lagi. Kemudian dia juga diminta untuk menebus obat ke apotek di luar rumah sakit karena pihak apotek rumah sakit mengaku tidak memiliki obat yang diperlukan.
Awaluddin juga diminta untuk membeli selang oksigen seharga Rp20 ribu. Padahal selang adalah bagian dari peralatan rumah sakit. Bahkan selang tersebut pun tidak dipakaikan ke anaknya yang sedang sakit.

Pada akhirnya, Jumat (6/5), anaknya meninggal dunia. Pihak rumah sakit pun tidak memberikan mobil ambulans untuk mengantarkan anaknya ke rumah. “Hampir 2 jam lebih saya menunggu ambulans namun tidak kunjung datang. Padahal ada 2 unit mobil ambulans parkir di depan RSUD Sibuhuan saat itu,” jelas Awaluddin. Dia bersama istrinya, Enni Hairani (29) akhirnya menggendong jasad putrinya dengan kain dan menumpang becak pulang ke rumahnya yang berjarak sekitar 1,3 km dari RSUD Sibuhuan. Terpisah, Direktur RSUD Sibuhuan dr Kudadiri ketika dikonfirmasi mengaku pihaknya tidak pernah mengutip sejumlah uang untuk peserta Jamlesda. “Sesuai peraturan, pasien Jamkesda tidak dipungut biaya, baik uang rawat inapnya maupun yang lainnya kecuali kalau obat yang di resep dokter tidak ada di RSUD,” ujarnya. (amr/ara)

http://metrosiantar.com/MENUJU_PALAS-PALUTA/Dokter_Jarang_Masuk_Rumah_Sakit_Jorok

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: