Ketika Dokter Spesialis Kecewa dengan RS Tempatnya Bekerja


Dijanjikan Rp40 Juta, yang Diterima Rp19 Juta
Seorang dokter spesialis di salah satu rumah sakit (RS) di Bandarlampung merasa hanya diberikan janji manis oleh pemilik RS. Nasibnya terkatung-katung. Disebut karyawan, ia tak lagi bekerja dan menerima gaji. Jika diberhentikan, ia tidak pernah di-PHK. Mengapa demikian?

TIUPAN suara seruling yang melantunkan sebuah lagu Sunda dari kaset sayup-sayup terdengar di telinga. Begitu syahdu. Tetapi kadang juga mengiris hati. Seperih mendengar cerita dr. Chilataf Dalimunthe, Sp.An., salah seorang dokter spesialis anastesi yang sebelumnya pernah mengabdikan diri di Rumah Sakit Bintang Amin Husada (RSBAH).

Meski begitu, dokter yang biasa disapa Caca ini bercerita dengan santai. Ia duduk di satu dari enam kursi yang mengelilingi sebuah meja bundar dengan taplak warna cokelat yang cukup besar. Beberapa tisu, sendok, dan asbak tersusun di atasnya.

’’Saya awalnya mengabdikan diri sebagai dokter spesialis anastesi di Rumah Sakit Harapan Bunda, Batam,” ujar Caca mengawali kisahnya. Saat sedang bekerja, sekitar awal Agustus 2010, ia ditelepon pemilik RSBAH Rusli Bintang. Rusli memintanya bekerja di RSBAH. ’’Ketika itu, saya belum mengiyakan atau menolak,” tambah Caca.

Rusli, menurut dia, sejak itu terus menghubungi dirinya agar bersedia bergabung. Akhirnya, pertemuan berlanjut hingga dia bertemu dengan Rusli di Kabara, kafe yang ada di Universitas Malahayati (Unimal). ’’Saya ingat pertemuan tersebut juga sekitar awal Agustus, beberapa hari setelah Pak Rusli menghubungi saya lewat telepon,” sambungnya.

Pada saat pertemuan, pria 51 tahun itu ditawari penghasilan, insentif, dan jasa medis yang sama dengan saat dia bekerja di Batam. ’’Kalau di Batam biasanya saya terima Rp40-50 juta per bulan,” terangnya.

Tak hanya penghasilan besar, bapak tiga anak itu juga dijanjikan umrah setahun sekali bersama keluarganya tanpa mengeluarkan biaya pribadi. Selain itu, mencicil tanah murah untuk perumahan dan anaknya dapat melanjutkan pendidikan gratis ke Fakultas Kedokteran (FK) di Unimal.

Dia juga dijanjikan dapat bekerja sebagai dosen di FK dan akan dibangunkan ruangan intensive care unit (ICU) untuk meningkatkan pendapatannya. ’’Nah, mendengar tawaran menjadi dosen, saya terima tawaran beliau. Kebetulan saya memang sudah lama menginginkan selain dokter, juga menjadi dosen,” ungkapnya.

Pria asli Medan, Sumatera Utara, tersebut akhirnya resmi bekerja di RSBAH pertengahan Agustus 2010. Keluarganya ikut pindah ke Lampung. ’’Barang-barang juga ikut pindah dengan rute Batam, Jakarta, Lampung. Bisa dibayangkan biaya yang saya keluarkan,” ujarnya.

Sekolah salah satu anaknya juga otomatis pindah. Jika sebelumnya bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Al Azhar, Batam, kini masuk SD Tunas Mekar Indonesia, Lampung. ’’Termasuk istri saya juga pindah kerja. Dari yang semula di RS Bunda, Jakarta, ke Lampung,” sesalnya.

Istrinya, dr. Susi Andriani, Sp.A.K., spesialis akupuntur, ikut bekerja di RSBAH. Sama dengan dirinya, istrinya juga diberikan jam waktu mengajar di FK Unimal. ’’Tetapi, walaupun sudah diterima bekerja, baik saya dan juga istri saya tidak pernah menandatangani kontrak kerja yang menjelaskan hak dan kewajiban kami di sana,” jelasnya.

Waktu berjalan. Memasuki akhir September 2010, Caca dan istrinya menerima hasil jerih payah mereka yang pertama dari RSBAH. ’’Saat itu, kami menerima gaji Rp19 juta. Yakni insentif sebagai dokter Rp14 juta dan jasa medis Rp5 juta,” urainya.

Walaupun bulan pertama gaji yang dibayarkan tidak sesuai dengan janji Rusli sebelumnya, ia dan istrinya tidak mempertanyakan. Selain telah menerima rumah dan kendaraan dinas, ia tidak mempunyai dasar hukum kuat untuk mempertanyakan. Apalagi, dia dan istrinya juga tidak pernah menandatangani kontrak kerja, meski hal tersebut sudah sering dipertanyakan.

’’Memasuki bulan selanjutnya, baru timbul masalah,” timpalnya. Gaji yang diterima turun Rp13 juta dari semula Rp14 juta. Rp1 juta dikatakan potongan pajak penghasilan. ’’Sebenarnya tidak ada masalah. Persoalannya tak ada pembicaraan sebelumnya. Seharusnya pihak RS bersikap bijak sebelum memotong gaji karyawannya,” geramnya. Dia bertambah kesal saat menerima gaji Desember 2010. Bukan lagi Rp1 juta yang dipotong, melainkan Rp8,5 juta, lagi-lagi tanpa pembicaraan.

Dia mengakui jika dihitung take home pay, pendapatannya tak berkurang. Dia tetap menerima Rp14 juta. Namun itu sudah termasuk tunjangan jabatan sebagai wakil direktur. ’’Sedangkan sebagai dokter spesialis, yang saya terima hanyalah Rp5,5 juta tadi,” bebernya. Pemotongan tersebut, menurutnya, tidak hanya terjadi satu kali. Melainkan juga sampai beberapa bulan berikutnya. (rul/c1/dea)

http://radarlampung.co.id/read/berita-utama/33670-ketika-dokter-spesialis-kecewa-dengan-rs-tempatnya-bekerja-1

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: