Penelitian Obat Herbal Masih Kurang


JAKARTA: Indonesia memiliki sekitar 38.000 spesies tumbuhan. Baru sebanyak 1.300 jenis di antaranya yang sudah diketahui memiliki potensi medis dan menjadi herbal. Masih banyak potensi sumber daya hayati lainnya yang belum tergali.

“Namun di antara ribuan jenis tumbuhan itu, belum banyak dipakai sebagai obat herbal moderen, yang bisa menggantikan obat kimia. Penyebabnya a.l. karena masih kurangnya riset di bidang tersebut,” kata Raymond R. Tjandrawinata, Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), pada peluncuran Vitafem Free Me hari ini di Jakarta.

Menurut laki-laki yang juga peneliti ini, penyebab lainnya karena  banyak herbal yang ada tapi kurang diriset dengan baik, sehingga hasilnya kurang maksimal. Misalnya belum diketahui bagaimana farmakologisnya, dan diuji klinisnya.

Selama ini, ujarnya, herbal Indonesia lebih dikenal sebagai jamu, bukan sebagai obat. Para dokter juga tidak begitu saja menggunakannya sebagai pengganti obat kimia modern, sebelum terbukti khasiatnya melalui uji klinis pada manusia.

Raymond menuturkan untuk mengembangkan herbal Indonesia agar bisa diterima di dunia medis, salah satunya dengan menerapkan prinsip farmakologi moderen. “Sehingga herbal tidak dipasarkan sebagai jamu, tapi sudah diidentifikasi dan diisolasi senyawa berkhasiatnya,” ungkapnya.

Seperti yang dilakukan oleh DLBS, katanya, menerapakan metode  Tandem Chemistry Expression Bioassay System (TCEBS) untuk memenuhi prinsip farmakologi moderen. Dengan cara ini, senyawa berkhasiat dalam suatu herbal diisolasi hingga diperoleh suatu zat yang disebut fraksi bioaktif.

Salah satu hasil risetnya adalah obat OTC Vitafem Free Me, yang diindikasikan untuk premenstrual syndrome (PMS). Selama ini kaum perempuan yang akan mendapatkan datang bulan (menstruasi), selalu diikuti dengan munculnya gejala emosi seperti mudah marah, dan juga mempengaruhi fisik.

“Diperkirakan PMS ini memengaruhi sekitar 85% dari perempuan pada masa subur. Vitafem Free Me bisa membantu mengatasi masalah tersebut dan solusi bagi mereka yang mengalami nyeri haid,” ujarnya.

Dia menjelaskan obat herbal berupa kapsul yang dijual bebas tanpa resep dokter tersebut, mengandung fraksi bioaktif DLBS1442 yang berasal dari Phaleria macrocarpa (mahkota dewa), setelah melalui proses riset dengan teknologi Biomolecular yang didukung dengan TGEBS. (ea)

http://www.bisnis.com/umum/sosial/24045-penelitian-obat-herbal-masih-lemah

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: