RSUD dr Soewandhie Kuwalahan Urusi Pasien


SURABAYA-Membludaknya pasien di RSUD dr Soewandhie Surabaya sempat memunculkan wacana untuk kembali menambah rumah sakit, khususnya di wilayah Surabaya Timur. Wacana tersebut mucul baik dari kalangan RSUD dr Soewandhie sendiri, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan DPRD Surabaya. Akan tetapi ada pula beberapa pihak yang berharap untuk melakukan kajian atas overload-nya pasien di RSUD dr Soewandhie sebelum menambah jumlah rumah sakit.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Fatkur Rohman menyatakan, pihaknya sangat sepakat dengan pengembangan RSUD dr Soewandhie untuk meningkatkan daya tampung pasien. Namun, ia tidak sependapat jika untuk mengatasi persoalan membludaknya pasien di RSUD dr Soewandhie dengan kembali membangun rumah sakit. “Saya justru menduga bahwa banyaknya pasien di RSUD dr Soewandhie akibat dari pola desentralisasi pelayanan kesehatan yang gagal dilakukan Pemkot Surabaya,” katanya,
kemarin.

Bisa jadi, membludaknya pasien di RSUD dr Soewandhie juga disebabkan buruknya kualitas pelayanan di Puskesmas. Khususnya pelayanan Puskesmas yang berada diwilayah Surabaya timur. Dengan buruknya pelayanan di Puskesmas, maka warga cenderung memilih rumah sakit ketika membutuhkan layanan kesehatan.

Untuk itu diperlukan perhatian lebih untuk meningkatkan kualitas pelayanan di Puskesmas. Seperti dengan penambahan sarana prasarana medis dan pemenuhan tenaga medis. “Seharusnya Puskesmas bisa menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan. Kalau layanan Puskesmas baik, rumah sakit tidak akan overload,” cetusnya.

Selain itu, Fatkur juga menilai, sosialisasi Pemkot Surabaya tentang layanan kesehatan gratis bagi warga miskin dengan program Jamkesmas non kuota kurang baik. Selama ini pemkot sudah bekerjasama dengan puluhan rumah sakit, baik milik pemerintah maupun rumah sakit swasta untuk menjalankan program Jamkesmas non kuota. Namun pada pelaksanaannya, sebagian besar program Jamkesmas non kuota hanya berjalan di RSUD dr Soewandhie. “Ada sekitar 20 rumah sakit yang sudah bekerjasama dengan pemkot unutuk menjalankan Jamkesmas non kuota, tapi yang berjalan hanya di Soewandhie,” ungkapnya.

Sementara itu, anggota Komisi D yang lain, Masduki Toha sangat sepakat dengan pendapat Fatkur Rohman. Politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa ini mencontohkan, dikawasan Surabaya barat, Pemkot telah mendirikan RSUD BDH. Namun kondisi RSUD BDH cenderung berbanding terbalik dengan RSUD dr Soewandhie. “RSUD DBH sampai sekarang tidak berdaya,” terangnya.

Masyarakat di kawasan Surabaya barat cenderung lebih suka mendapatkan layanan kesehatan di puskesmas di rumah sakit yang sudah ada sebelum RSUD BDH dibangun. Bahkan, tak sedikit warga yang merasa kecewa ketika berobat ke RSUD BDH. “Di sana (RSUD DBH) itu pasiennya malah sepi, tidak seperti di RSUD Soewandhie. Padahal kedua rumah sakit ini sama-sama milik pemkot,” cetusnya.

Sesuai dengan fakta yang terjadi di RSUD BDH, tak ada salahnya jika sebelum menambah rumah sakit dikawasan Surabaya timur dilakukan kajian terlebih dahulu. “Perlu dilakukan kajian kenapa di Soewandhie sampai overload, tetapi di RSUD BDH malah sepi pasien,” pungkasnya

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: