Dokter RSU Jeneponto Nodai Calon Perawat


MAKASSAR — Berprofesi sebagai dokter adalah tugas yang mulia. Namun, apalah jadinya jika profesi ini disalahgunakan oleh oknum nakal.

Mus, dokter yang bertugas di RSU Jeneponto, harus berurusan dengan aparat hukum karena perbuatan asusila dia terhadap seorang gadis. Kasus ini sempat bergulir di Polres Jeneponto. Kini dokter yang menduduki jabatan strategis di RSU Jeneponto itu sudah dilimpahkan ke kejaksaan setempat.

Korban menuturkan kronologi peristiwa yang menimpanya. Menurut siswa Sekolah Perawat Kesehatan ini, insiden tak senonoh yang dialaminya terjadi pada Senin (18/4/2011). Kala itu korban diajak dokter Mus ke tempat praktiknya, tak jauh dari RSU Jeneponto.

Awalnya korban bertanya-tanya dalam hati tentang sikap dokter Mus yang tidak biasa dan alasan mengajaknya ke tempat praktiknya. Apalagi status korban hanya pegawai magang di RSU tersebut. Malah, ia jarang berinteraksi dengan dokter Mus. “Katanya minta bantuan untuk mengambil alat kedokteran di tempat praktik,” tutur korban.

Kala itu korban berangkat bersama kawan-kawan perawat yang lain. Saat di tempat praktik, hanya korban yang diminta masuk ke ruang praktik. Di situlah dokter Mus melakukan aksi memalukan. Dimulai dengan rayuan hingga tindakan memegang tubuh korban. “Saya ini selain dokter gigi juga ahli terapi payudara,” ujar korban menirukan ucapan Mus.

Selanjutnya, korban mengaku diminta melepaskan pakaiannya, tetapi ia menolak. Akhirnya Mus yang melakukannya dengan paksa. “Saya juga diancam. Kalau menolak kemauannya, saya tidak dapat nilai,” tutur korban.

Dalam kepasrahannya, selama dua jam sang dokter dengan leluasa menggerayangi tubuh korban. Tak kuasa menanggung beban, korban lantas menceritakan kejadian itu kepada pembimbingnya di RSU Jeneponto dan kepada teman-temannya sesama siswa magang di RSU itu.

Korban pun menyampaikan masalahnya kepada keluarganya. Kontan saja keluarga keberatan dan melaporkan kasus ini ke Polres Jeneponto. “Kasus ini sudah kami laporkan, kok belum ditahan. Karena itu, saya protes ke Polres Jeneponto,” ujar Rala, kerabat korban.

Atas desakan keluarga korban, penyidik Polres Jeneponto pun memeriksa empat teman korban sebagai saksi. Dalam keterangan saksi terungkap, salah seorang di antaranya nyaris saja menjadi korban pelecehan seksual berikutnya. Beruntung rekan korban tertolong oleh tamu dokter yang datang kala itu.

Kepala Polres Jeneponto Ajun Komisaris Besar Ruslan Aspan, yang dikonfirmasi via telepon, membenarkan bahwa kasus ini dalam proses hukum dan dilimpahkan ke kejaksaan. “Kasus ini kami selidiki dan terungkap juga ada korban lain dengan modus yang sama. Saat ini tersangka kami tahan,” ungkap Ruslan.

http://regional.kompas.com/read/2011/05/22/09251417/Dokter.RSU.Jeneponto.Nodai.Calon.Perawat

  1. #1 by Flanker on 25 Mei 2011 - 3:37 am

    Saran saya copot izin kedokterannya, masih banyak orang lain yg bisa lebih baik dari seorang bejat seperti dia. Ketegasan IDI sangat diperlukan, apakah lantas sbg dokter mereka sok seenaknya saja? Masih ada hukum berlaku di NKRI..!!!

  2. #2 by Ardiansah Ardhie on 6 Oktober 2011 - 9:04 am

    Hukum saja bila melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi orang.
    jangan membeda-bedakan dan hukum masih berlaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: