Pelayanan RSUD Pasirpangaraian Picu Kecemasan Keluarga Pasien


PASIRPANGARAIAN- Kembali, seorang pasien melahirkan, terpaksa dirujuk pihak keluarga ke rumah sakit di Pekanbaru. Pasalnya, pihak RSUD Pasirpangaraian takut lakukan operasi, karena keterbatasan genset di rumah sakit tersebut.

Ungkap Adi, anggota keluarga pasien, kepada Riauterkini, Ahad (22/5/11). Pada Jum’at (20/5/11) kemarin, sekitar pukul 19.00 Wib, ia membawa saudaranya Melva Mariani (26), yang akan melahirkan. Dikatakan perawat RSUD, saudaranya tersebut harus dioperasi. Namun sudah menunggu sekitar 1,5 jam, dokter rumah sakit tersebut tak kunjung datang.

Diakui perawat, bertugas di ruangan khusus Ibu melahirkan. Dokter sedang menangani pasien di kliniknya. Begitu pun, dokter tidak mau ambil resiko, sebab genset kerap mati mendadak. Tapi ketika pihak keluarga pasien ingin bicara langsung dengan dokter bersangkutan, perawat menolak dan mengatakan dokter tidak bisa mengganggu.

“Sepertinya mereka sengaja mau membunuh adik saya. Sudah berjam-jam kami tidak juga dilayani kemarin,” ungkap Adi, kepada Riauterkini, dari Rumah Sakit Eria Bunda Pekanbaru, via telepon selulernya, Ahad.

Jelas dia, pihak RSUD menawarkan, agar pasien dirujuk ke Pekanbaru menggunakan Ambulance rumah sakit, dengan membayar Rp700 ribu. Sekitar dua jam menunggu, Ambulance tak datang, sehingga pihak keluarga memutuskan menggunakan mobil pribadi untuk merujuk Melva ke RS Eria Bunda Pekanbaru, Jumat malam.

“Kata dokter RS Eria Bunda, jika kami terlambat, adik kami ini tidak tertolong. Semoga kedepannya RSUD tidak seperti ini lagi. Jika tidak sanggup, bilang secepatnya, jangan pasien disuruh menunggu lama,” harap Adi.

Dilain tempat, Dr Nyoman Soeharta, Dirut RSUD Pasirpangaraian, dikonfirmasi Riauterkini via selulernya, Ahad (22/5/11), membenarkan jika Jumat sore kemarin, ada pasien melahirkan yang harus dirujuk ke Pekanbaru.

Kata dia, keadaan pasien kemarin terlihat sehat, tapi karena terkendala genset yang kerap mati, pihaknya tidak mau ambil resiko. Sebab, ditakutkan terjadi apa-apa dengan.

“Di rumah sakit ini hanya ada dua genset yang berfungsi, itu pun sering mati mendadak karena sudah berumur. Sehingga Jumat sore kemarin, kami minta keluarga merujuk pasien tersebut (Melva.red) ke RS Pekanbaru,” kata Nyoman.

Diakuinya, dari dua genset di RSUD tersebut, hanya yang berkapasitas 250 KVA yang berfungsi, sedangkan genset yang berkapasitas 130 KVA hanya sebagai cadangan, jika listrik padam mendadak.

“Kami sudah ajukan untuk pemasangan baru ke PLN, tapi belum terealisasi. Pengadaan genset juga sudah kami diajukan, diperkirakan September mendatang baru terealisasi,” ungkapnya.

Jelas dia, RSUD memiliki 5 armada Ambulance. Biasanya pasien hanya dikenakan biaya kirim sebesar Rp750 ribu, sesuai Perda. Tapi pihak keluarga kemarin minta akan menggunakan mobil pribadi.

“Solusinya, saat ini kita kan masih berbenah, baik masalah tanaga, peralatan, dan listrik. Problem kita saat ini adalah masalah listrik, jika ini tidak terealisasi, maka akan muncul kasus serupa kedepannya. Semoga September mendatang, pengadaan genset disetujui pemerintah,” harapnya.

Kata Nyoman, sebab kerap rusak, pihaknya terpaksa meminjam genset milik Setda Pemkab Rokan Hulu berkapasitas 400 KVA untuk back-up kebutuhan listrik di instansinya. Tapi genset ini juga kerap rusak, sehingga pihaknya tidak mau ambil resiko melakukan operasi.***(zal)

http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=36940

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: