RS Lamteng Lumpuh 4 Jam


GUNUNGSUGIH – Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Daerah Demang Sepulau Raya (RSDDSR) Lampung Tengah kemarin lumpuh selama empat jam. Ratusan pegawai RS itu berunjuk rasa ke kantor Pemkab dan DPRD Lamteng sejak pukul 09.00 hingga 13.00 WIB.
Pantauan di RS tersebut, beberapa karyawan memang masih bekerja. Di setiap ruang perawatan terdapat beberapa perawat. Misalnya ruang penyakit bedah, kebidanan, paviliun atau VIP, serta penyakit anak dan dalam.
Namun, tetap saja segelintir orang itu tidak dapat melayani masyarakat yang hendak berobat. Instalasi gawat darurat (IGD) bahkan benar-benar sunyi. Tidak ada satu pun tenaga medis terlihat. Pintu bagian depan dibiarkan tertutup rapat.
Muniah, warga Kampung Sumberagung, Kecamatan Seputihmataram, Lamteng, mengaku kecewa. Ia terpaksa membawa pulang kembali anaknya yang hendak fisioterapi karena gangguan pertumbuhan. ’’Harusnya jangan sampai kosong seperti ini,” keluh wanita 30 tahun itu sambil menggendong anaknya.
Pasien lainnya, Warso (70), warga Kampung Gorasjaya, Bekri, Lamteng, tiba di RSDDSR pukul 10.15. Ia hendak mengobati luka bacokan karena golok sewaktu bekerja di kebun sawit. ’’Saya tadinya berobat ke puskesmas. Tapi karena alat di sana terbatas, disuruh ke rumah sakit. Siapa sangka malah kayak gini,” sesalnya kepada satpam rumah sakit yang kemudian menganjurkan dirinya berobat ke RS swasta di Bandarjaya.
Kesunyian juga terlihat di tempat pendaftaran pasien jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat) dan umum. Tak satu pun petugas pendaftaran terlihat. Hanya ada Kepala Subbagian (Kasubbag) Info Medik Fatkhul dan beberapa pasien yang hendak berobat rutin. Fatkhul yang dikonfirmasi mengaku kaget mengetahui stafnya ikut berunjuk rasa. ’’Saya tidak tahu ada demo karena habis izin beberapa hari lalu,” ungkapnya.
Dia kemarin datang pagi. Tak lama kemudian, ia dipanggil Direktur RSDDSR dr. Lindawaty ke ruangan. Namun, begitu turun, ia melihat stafnya tidak ada lagi. ’’Jika tahu akan ada unjuk rasa, saya pasti melarang staf ikut,” cetusnya.

Jalannya Demo
Ratusan pegawai RSDDSR yang berdemo kemarin terdiri dari dokter, tenaga operasional, dan beberapa PNS yang bekerja di RS itu. Ada juga pegawai tenaga harian lepas (PTHL). Mereka datang dengan puluhan sepeda motor dan mobil.
Kali pertama rombongan bergerak ke kantor Pemkab Lamteng yang berjarak sekitar dua kilometer dari RSDDSR. Di sana, mereka diterima Asisten Bidang Tata Pemerintahan Drs. Rivai Daniel, S.H.; Asisten Bidang Kesra Ridhuan Sory Maoen Ali; Kepala Dinas Kesehatan Dra. Hj. Agustina; dan Staf Ahli Bupati Drs. Kohar Ayub, M.M.
Perwakilan demonstran, Indardi Prawoto, menyampaikan apa yang menjadi aspirasi massa. Yaitu meminta direktur RSDDSR diberhentikan. Mereka beralasan, Lindawaty selama ini tidak memperhatikan nasib stafnya dan mengambil keputusan tanpa musyawarah.

Dr. Misyha mencontohkan, sudah dua tahun dirinya magang di RSDDSR sebagai dokter umum. Tapi, hingga memutuskan demo, dirinya belum mendapatkan surat keputusan PTT (pegawai tidak tetap) daerah. Menanggapi tuntutan itu, Rivai berpendapat semuanya akibat kebuntuan komunikasi. ’’Jika pimpinan memberi penjelasan kepada bawahan saat mengambil kebijakan, saya yakin tidak terjadi salah komunikasi,” ungkap dia. ’’Dan untuk SK PTT, sekarang sudah di BKD Lamteng. Tidak ada masalah,” lanjutnya.
Usai menyampaikan aspirasi, massa bergerak ke DPRD Lamteng. Mereka diterima Ketua DPRD Hi. Sudarto, S.E.; Wakil Ketua I Raden Zugiri, S.H.; Wakil Ketua II Choiri, S.H.; dan beberapa anggota dewan lainnya.

Ketua Komisi A Abdullah Riduan menegaskan, pihaknya akan merekomendasikan pemberhentian Lindawaty. Sebab, hal itu telah menjadi aspirasi dari karyawan rumah sakit tersebut. Dari situ, rombongan kembali ke RS dan bekerja seperti biasa.

Jawaban Lindawaty
Lindawaty yang dikonfirmasi belakangan mengaku kaget dengan aksi pegawainya. Selama ini, internal rumah sakit cukup solid dan tidak terjadi masalah apa-apa.
Soal kesenjangan insentif karyawan, menurut dia, wajar terjadi. ’’Kan tidak mungkin insentif dokter, kepala bidang, dan perawat disamakan dengan sekuriti,” katanya.

Sebelum ditentukan, insentif pegawai terlebih dahulu digodok tim khusus. Bahkan, sebelum ditetapkan terlebih dahulu dirapatkan dengan melibatkan semua unsur di rumah sakit. Namun, Lindawaty menyerahkan sepenuhnya persoalan itu kepada pihak Pemkab Lamteng. Baginya, jabatan adalah amanah. ’’Dan, saya yakin setiap masalah pasti ada solusinya,” tutup dia. (*)

http://radarlampung.co.id/read/berita-utama/373-rs-lamteng-lumpuh-4-jam

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: