Malpraktek, RS Petrokimia Dipolisikan


GRESIK- Rumah Sakit Petrokimia Gresik (RSPG) dilaporkan ke polisi karena diduga telah melakukan malpraktek terhadap seorang pasiennya, sehingga berakibat meninggal dunia. Pasien Sulfa’at (42), dicurigai pihak keluarga meninggal tidak wajar ketika menjalani operasi di Klinik RSPG Jalan Raya Desa Legundi, Kecamatan Driyorejo, Kamis (19/5) pekan lalu.

Dalam laporannya ke Polsek Driyorejo, istri pasien, Narti (28) dan kakak korban bernama Suheri (44), menyebutkan, sebelum suaminya menjalani operasi patah tulang paha akibat kecelakaan pada Selasa malam (17/5) lalu, kondisi kesehatannya cukup baik.

Tapi ketika menjalani operasi oleh tim medis yang diketuai ahli bedah tulang RSPG dr. Eva, tiba-tiba pasien asal Desa/Kecamatan Diriyorejo itu dinyatakan telah meninggal dunia setelah operasi dilakukan. Operasi itu berlangsung pukul 06.30 hingga pukul 15.00.

Menurut istri pasien, dalam rentang waktu yang cukup lama tersebut tim medis hanya meminta keluarga bersabar dan berdoa tanpa menjelaskan perkembangan hasil operasi. Karena curiga, sekitar pukul 15.30 keluarga pasien termasuk Narti memaksa masuk ke ruang operasi. Di saat itulah mereka tahu bila korban telah meninggal.

“Kami tahu Sulfa’at meninggal setelah kami mendobrak pintu ruang ICU dan melihat tubuhnya sudah tak bergerak. Coba kalau tidak kami dobrak, kami tidak bakal tahu keadaannya,” ungkap Suheri, kakak kandung korban saat ditemui Surabaya Pagi, Minggu (22/5).

Ditambahkan Suheri, pihak keluarga semakin curiga setelah melihat jasad Sulfa’at. Dari mata dan hidung korban keluar darah segar setelah kapas penutupnya dibuka. Sementara mulutnya dalam kondisi diplester. “Padahal sebelum operasi, kondisinya bagus kok,” katanya sedih.

Karena tidak menerima kematian suaminya, Narti bersama kerabat lain kemudian membawa jasad korban ke RSUD dr. Soetomo Surabaya untuk mengetahui penyebab kematian korban.

Selain itu, pihak keluarga juga telah mengadukan kejanggalan tersebut ke komisi D DPRD Gresik. Pengaduan itu diterima langsung ketua komisi Chumaidi Maun. “Kami tidak akan gegabah mengambil kesimpulan sebelum pihak manajemen RSPG dan Dinkes Gresik kami dengar pendapatnya,” kata Chumaidi menanggapi pengaduan istri korban.

Namun diingatkan Chumaidi, bila merujuk pada Kepmenkes No. 666/2007 tentang Klinik Rawat Inap Medik Dasar, operasi yang dilakukan di klinik RSPG salah. “Karena dalam kepmenkes tersebut dijelaskan, bahwa klinik tidak bisa melakukan operasi berat, apalagi hingga malakukan pembiusan. Hal ini juga dibenarkan oleh Kadinkes Gresik,” ungkap politisi asal PKB itu kemarin.

Selain itu, lanjut Chumaidi, dalam UU No. 29/2004 tentang Kedokteran juga sudah dijelaskan bahwa apabila seorang dokter melakukan pelanggaran atau malpraktek diancam sanksi pidana tiga tahun penjara dan pidana denda sebesar-besarnya sebanyak Rp 100 juta.

Sementara pihak RSPG membantah telah melakukan tindak malpraktek terhadap pasien yang dioperasi akibat patah tulang paha tersebut. “Tindakan operasi yang dipimpin dokter Eva sudah sesuai dengan standar dan prosedur yang berlaku,” kata Direktur RSPG dr. Singgih memberi konfimasi. gr-1/did

http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b8129829624dbe1a8199bac17ca0b161080706054e

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: