Ahli Bedah Perlu Perbaiki Komunikasi dengan Pasien


Ahli bedah perlu melakukan perbaikan komunikasi dengan pasien, karena banyak kasus terkait kelalaian tindakan medis yang berakibat fatal, seperti pasien meninggal dunia usai operasi yang biasanya kurangnya komunikasi.

Koordinator Bedah Jantung di Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSU dr Soetomo, Prof dr Paul Tahalele FCTS di Surabaya, mengatakan, biasanya dokter yang akan melakukan bedah atau operasi kurang memberikan penjelasan terhadap para pasien sebelum melakukan tindakan medis. Seharusnya dokter tersebut harus menyampaikan secara lengkap dan menyeluruh mengenai tindakan medis apa saja yang akan dilakukan berikut dampak-dampaknya.

“Kami merasa perlu ahli bedah mendapat pemahaman dan pengetahuan mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan saat melakukan operasi sehingga komunikasi sangat diperlukan dalam hal ini,” tegas Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Ahli Bedah Indonesia (PABI) ini.

Dia menambahkan, dengan adanya UU No 29/2004 tentang Praktik Kedokteran, maka tindakan ahli bedah harus menyesuaikan aturan tersebut. Sebelum ada UU itu, tindakan ahli bedah sebelum mengambil tindakan hanya berdasarkan rapat-rapat.

“Sekarang kan sudah ada undang- undangnya sehingga ini harus dijadikan acuan dan standardisasi. Selain itu, mereka (ahli bedah) juga akan tahu risiko yang akan diterima ketika melanggar aturan ini,” tegasnya.

Sementara itu, kasus kelalaian dokter dalam melakukan tindakan medik cukup banyak. Tercatat sejak tahun 2006 hingga sekarang ada 50 kasus kelalaian tindakan medik yang sudah disidangkan di Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI).

Ia menjelaskan, dari 50 kasus yang disidangkan ada sejumlah dokter yang dicabut Surat Izin Praktik (SIP)-nya oleh MKDKI. Namun ia tidak menyebutkan siapa dokter yang sudah dicabut SIP-nya.

Menurut Paul, pencabutan SIP merupakan pukulan telak bagi seorang dokter. Pasalnya, dokter tidak diizinkan berpraktik tanpa mengantongi SIP. “Kalau tidak bisa berpraktik dia tidak akan bisa bekerja sebagai seorang dokter,” katanya.

Tindakan ini mengacu pada UU No 29/2004 tentang Praktik Kedokteran. Dimana seluruh dokter harus mengikuti standar yang ada secara profesional. Kelalaian dalam melakukan tindakan juga langsung dikenai sanksi tegas. Namun, kalau MKDKI melihat kasus kelalain itu ada unsur kuat aspek kriminalnya maka akan diserahkan ke aparat kepolisian.

Dari 50 kasus yang disidangkan MKDKI, tidak satu pun kasus yang terjadi di RSUD dr Soetomo. Kepala Instalasi Rawat Darurat RSUD dr Soetomo, dr Urip Murtedjo SpB-KL mengklaim belum pernah ada masalah kelalaian tindakan selama ia menjabat Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan rumah sakit milik Pemprov Jatim tersebut. Begitu pula saat posisi itu dijabat dr Yoga Wijayahadi SpB-KL sekarang. Sementara itu, pada Rabu (26/5) hingga Sabtu (29/5) pekan depan, akan digelar Kongres Nasional (Konas) III PABI di Hotel JW Marriott, Surabaya. (mkl)

http://www.mydiskon.com/news-2153-ahli-bedah-perlu-perbaiki-komunikasi-dengan-pasien-.html

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: