Hipertensi Dokter Muda Lebih Suka Meresepkan Obat


Ketika menghadapi pasien yang memiliki risiko penyakit jantung, seperti hiperkolesterol atau hipertensi, para dokter muda lebih suka meresepkan obat, sementara dokter yang lebih senior memilih perubahan gaya hidup untuk menurunkan risiko penyakit.

Walaupun lebih sering meresepkan obat, ternyata pasien dokter-dokter muda itu tidak mampu mengontrol faktor risiko penyakit mereka. Demikian menurut studi yang dilakukan di Italia dan dimuat dalam International Journal of Clinical Practice.

“Walau dokter-dokter muda itu meresepkan obat, hal ini tidak berdampak signifikan pada penurunan faktor risiko pasien penyakit jantung. Hal ini makin menguatkan bahwa faktor lain berpengaruh dalam manajemen penyakit, yaitu perubahan gaya hidup,” kata profesor Massimo Volpe dari Universitas Roma.

Volpe dan timnya mengamati kebiasaan peresepan obat dari 1.078 dokter keluarga, dokter jantung dan ahli diabetes, bersama dengan data yang dihimpun dari 10.000 pasien mereka yang rata-rata berusia 67 tahun.

Hasil penelitian menemukan 75 persen pasien menderita tekanan darah tinggi, 59 persen memiliki kadar kolesterol tinggi dan 37 persen menderita diabetes. Seluruhnya merupakan faktor risiko penyakit jantung.

Obat hipertensi merupakan jenis obat yang paling banyak diresepkan, sekitar 83 persen dokter berusia kurang dari 45 tahun meresepkannya. Dokter yang menjadi responden dalam penelitian ini 78 persen berusia 46-55 tahun dan 80 persen dokter berusia di atas 55 tahun.

Para dokter muda itu juga lebih sering meresepkan obat diabetes dan obat penurun kolesterol dibanding para senior mereka.

Di lain pihak, para dokter senior lebih suka menganjurkan pasiennya mengubah gaya hidup. Misalnya, dokter berusia di atas 55 tahun sering meminta pasiennya berhenti merokok dan dokter berusia 46-55 tahun merekomendasikan pola makan yang lebih sehat dan berolahraga untuk menurunkan kolesterol dan tekanan darah.

http://health.kompas.com/index.php/read/2011/05/24/13233698/Dokter.Muda.Lebih.Suka.Meresepkan.Obat

  1. #1 by christian angkasa on 24 Mei 2011 - 10:40 pm

    bagaimana tidak memberikan obat? pasien tidak akan puas bila datang berobat tapi tidak menerima obat, bahkan mereka akan ketus dan tidak akan kembali lagi bila kita memberi vitamin, kita ingin mengikuti terapi senior kita, kita ingin sesuai teori, tetapi pasien memaksa dokter memberikan obat, siapa yg salah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: