Menkes Sesalkan Mafia Dokter Jantung


JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari tidak tinggal diam melihat koleganya yakni para dokter jantung berbuat nakal. Menkes blak-blakan menuding dokter jantung banyak yang ingin mendapat komisi dari perusahaan asing dengan menggunakan alat lain selain yang diwajibkan Depkes, yakni stent. Kecurangan itu diketahui Menkes setelah mendapat data beberapa rumah sakit yang mendapat bantuan stent gratis oleh Depkes, penyerapan pemakaiannya sangat rendah. ’’Setelah alat mahal itu didistribusikan hanya sedikit pasien yang menggunakannya. Ini kan aneh, lha wong gratis kok nggak ada yang mau berobat, saya sangat menyayangkan hal itu,” ujarnya.

Menteri yang gemar mengunjungi pesantren itu mengungkapkan di Indonesia beredar begitu banyak alat stent jantung. ’’Jumlahnya bahkan ada ratusan merek,” ujarnya. Tak urung, biaya pengobatan penyakit jantung amat tinggi. Padahal, penyakit itu masih menempati ranking satu penyebab kematian di Indonesia.

Menkes mengatakan, lantaran banyaknya merek stent yang beredar di Indonesia, maka biaya pengobatan tidak seragam. Berbeda dengan Malaysia dan Singapura yang hanya memakai beberapa jenis stent. Sehingga, biaya pengobatan relatif murah dibandingkan Indonesia. ’’Berawal dari kondisi itu, saya mengeluarkan SK yang mengatur tentang pemakaian stent,” ujarnya. Pada Juli 2008, Menkes melakukan survei harga stent yang murah dan bermutu. Setelah itu, Menkes mengambil kebijakan penggratisan biaya pengobatan stent jantung dengan memberi bantuan alat itu pada 14 rumah sakit.
Yaitu, RS Jantung Harapan Kita, RSUPN Cipto Mangunkusumo, RSUP Fatmawati (Jakarta), RSUP dr. Hasan Sadikin (Bandung), RSUP Adam Malik (Medan), RSUD dr. Soetomo (Surabaya), RSUP Kariadi (Semarang), RSUP dr. Sardjito (Jogjakarta), RSUP dr. M. Jamil (Padang), RSUP dr. Sanglah (Denpasar), RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo (Makassar), RSUP dr. Moh. Hoesin (Palembang), RSUD Arifin Ahmad (Pekanbaru), dan RSU H.A. Wahab Sjahranie (Samarinda).

Menkes mengaku menaruh perhatian terhadap pasien nonjamkesmas seperti pasien askes yang tidak ter-cover pengobatan itu. Sebab, bisa jadi dokter menganjurkan untuk memakai stent lain yang biayanya jauh lebih mahal. ’’Saya tahu betul komisi yang diperoleh dokter dari satu stent. Bisa sekitar Rp10 juta. Saya ini dokter jantung tidak bisa dibohongi. Ngono yo ngono, tapi yo ojo ngono,” ujarnya.

Harusnya, kata Siti, para dokter berpihak terhadap rakyat. Bukan malah turut menjual alat negara asing yang harganya amat mahal. Tak urung, pemakaian stent untuk pasien askes bisa mengeluarkan biaya hingga Rp30 juta.  Karena itu, kata Menkes, 14 rumah sakit yang mendapat bantuan itu harus bisa mengoptimalkan pemberian stent tersebut. ’’Jika tidak dan masih menggunakan stent selain yang diwajibkan, lihat saja. Memang dulu, hak preogatif dokter untuk memilihkan alat itu, sekarang tidak lagi. Saya nggak segan menyanksi tegas jika masih melanggar,” ujarnya blak-blakan di hadapan para direktur rumah sakit. (*)

http://radarlampung.co.id/read/nasional/840-menkes-sesalkan-mafia-dokter-jantung-

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: