Dokter Puskesmas Manfaatkan Teknologi Geospasial


Selama ini masyarakat mengenal geospasial dalam proses pemetaan yang dilakukan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) hanya terkait masalah penentuan batas wilayah suatu provinsi, kabupaten/kota. Seorang kepala Puskesmas, dr Hadi Puspita menggabungkan teknologi canggih pemetaan yang dikeluarkan Bakosurtanal dengan sentuhan manual untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami masyarakat di pedesaan.
Dari seluruh wilayah di Indonesia, mapping ini saya kira hanya ada wilayah di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, kata dr Hadi Puspita saat menjadi pembicara pada acara workshop The 2nd Indonesian Geospasial Technology Exhibition yang diselenggarakan Badan Kordinasi Survei dan pemetaan nasional (Bakosurtanal), di Jakarta Convension Centre (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis lalu.Dalam peroses, pemetaan dilakukan dengan ditambah pengamatan secara detil melalui sentuhan manual. Peta itu sendiri berdasarkan data dari satelit, lalu digabungkan dengan Peta yang ada di tokoh buku, setelah itu di-scan. Adapun waktu untuk membuat peta ini sendiri mencapai enam bulan dengan melibatkan masyarakat setempat, kata dokter teladan tahun 2006 dari Jawa Timur ini.

Pemetaan itu digunakan untuk menyelesaikan masalah di dalam masyarakat, terutama berkaitan dengan masalah kesehatan. \”Dari hasil pemetaan itu kini di setiap balai RT atau RW mereka punya mapping sendiri-sendiri untuk mengenai masalah-masalah yang terjadi.  Misalnya, di setiap RT atau RW, mayarakat dapat di wilayah itu ada dokter berapa, jamban berapa, dan kasus demam beradar berapa. Kami tidak bisa pakai satelit, ungkapnya.

Bukan hanya itu, menurut Putu, pihaknya kini juga melakukan surveylance yang dilakukan secara konsisten. Selama Puskesmas berdiri sejak sekitar tahun 70-an hingga kini sensus harian penyakit (SHP) tidak pernah dikerjakan secara konsisten, ungkap dokter yang praktek di Kecamatan Puren.

Artinya, data yang dilaporkan selama ini namun hasilnya tidak ada kasus. Sementara wabah penyakit tetap bermunculan, dan tingkat kematian tetap tinggi. Hal itu dikarenakan tidak adanya pengamatan secara serius. Menariknya, walaupun belum ada payung hukum atau Perda mengenai ini, ada dokter praktek swasta melaporkan data ke Puskesmas di tempat kami. Ini merupakan pertama kali di Indonesia, katanya. (oto)

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: